Deadline – Sindiran PRABOWO “INDONESIA GELAP” kembali jadi sorotan setelah Presiden RI Prabowo Subianto melontarkan pernyataan keras dalam acara peresmian 13 proyek hilirisasi nasional fase II di Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (29/4/2026).
Dalam pidatonya, Prabowo secara terbuka menolak narasi “Indonesia Gelap”. Ia bahkan menyebut pihak yang menyuarakan narasi tersebut memiliki “mata buram”. Pernyataan itu memicu reaksi luas karena disampaikan di forum resmi negara.
PRABOWO melontarkan “INDONESIA GELAP” juga disertai sindiran terhadap gerakan “Kabur Aja Dulu”. Ia mempersilakan siapa pun yang ingin meninggalkan Indonesia.
“Ada yang mau kabur? Kabur aja. Mau ke mana? Mungkin ke Yaman,” ucap Prabowo dalam pidato yang ditayangkan kanal resmi Sekretariat Presiden.
Pernyataan ini langsung memicu pertanyaan publik. Siapa sebenarnya yang disindir?
Sasaran Sindiran: Pengkritik Pemerintah
Politisi Partai Gerindra, Sugiat Santoso, memberi penjelasan. Ia menyebut sasaran utama sindiran Prabowo adalah pihak-pihak yang aktif mengkritik pemerintah.
Menurut Sugiat, kritik yang berkembang di era digital sering tidak sesuai dengan kondisi nyata di masyarakat.
“Banyak kritik yang tidak membumi terhadap realitas di lapangan,” kata Sugiat dalam program Sapa Indonesia Malam di KompasTV, Kamis (30/4/2026).
Ia menilai viral di media sosial tidak selalu mencerminkan suara masyarakat luas.
Contoh Nyata: Program Makan Bergizi Gratis
Sugiat mencontohkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang ramai dikritik. Ia menyebut fakta di lapangan justru menunjukkan dukungan masyarakat.
Ia mengungkap adanya warga yang bergotong royong membangun dapur untuk program tersebut.
“Ini bukti ada optimisme masyarakat. Mereka percaya program ini akan berjalan dan berdampak pada pembangunan sumber daya manusia,” ujarnya.
Menurutnya, masyarakat di tingkat bawah justru lebih optimis dibanding narasi yang berkembang di media sosial.
Sindiran ke “Orang Pintar” dan Tokoh Senior
Sugiat juga menjelaskan istilah “orang pintar” yang disebut Prabowo dalam pidatonya. Ia menilai istilah itu merujuk pada tokoh senior yang kerap mengkritik pemerintah.
Kelompok ini, kata Sugiat, melihat Indonesia dalam kondisi sulit. Pandangan tersebut dinilai tidak sejalan dengan optimisme pemerintah.
Narasi “Indonesia Gelap” juga disebut menyinggung rasa nasionalisme.
“Seolah-olah bangsa ini sangat menderita. Itu menyentuh harga diri nasional,” kata Sugiat.
Narasi “Kabur Aja Dulu” Dinilai Ganggu Nasionalisme
Sugiat menegaskan bahwa ajakan meninggalkan Indonesia dianggap merusak semangat kebangsaan.
Ia menilai generasi intelektual seharusnya tetap tinggal dan berkontribusi membangun negara.
Ia bahkan menyinggung sejarah perjuangan kemerdekaan.
“Kalau tokoh seperti Hatta memilih tinggal di luar negeri, Indonesia tidak akan merdeka,” ujarnya.
Pidato Prabowo: Indonesia Terang dan Aman
Dalam pidato yang sama, Prabowo menegaskan bahwa Indonesia memiliki masa depan cerah. Ia menyebut Indonesia sebagai salah satu negara paling aman saat ini.
Ia juga menantang pihak yang ingin pergi untuk menentukan tujuan mereka.
“Lihat berita. Kita ada di negara yang aman,” tegasnya.
Prabowo menilai narasi negatif hanya menciptakan kegaduhan dan tidak membantu pembangunan.
Bukan Pertama Kali Disinggung
Ini bukan pertama kalinya Prabowo menyinggung narasi “Indonesia Gelap”. Sejak menjabat pada 20 Oktober 2024, ia sudah beberapa kali mengangkat isu ini.
Setidaknya, ia pernah membahasnya dalam:
- Kongres PSI di Solo, Juli 2025
- Kongres Partai Demokrat, Februari 2025
- Taklimat pejabat di Istana, April 2026
Pernyataan terbaru ini memperkuat sikap pemerintah yang menolak narasi pesimistis tentang kondisi Indonesia.




tidak ada lg harapan rakyat indonesia. klu sistim pemerintah an kita selalu salah menepatkan kebijak kan. apa lg klu pemerintah an kita mikir kan bisnis kluarga dan dinasti ny. negara akan maju klu pemipin ny selalu melihat ke bawa. ingat lah pemimpin kmi. uda akir zaman. dengan usia kita smua. bravo nkri. lihat lah ke bawah pemimpin ku.