Deadline – Amien Rais Diprotes Aktivis 98 menjadi sorotan publik setelah pernyataannya terkait dugaan skandal moral menuai kritik keras. Ucapan tersebut dinilai tidak berdasar dan berpotensi menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat.
Politikus senior Amien Rais dikritik oleh aktivis Gerakan 1998 dari Yogyakarta, Supriyanto, atas pernyataan yang dianggap sebagai hoaks. Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah video di media sosial berjudul “Jauhkan Istana dari Skandal Moral” yang diunggah pada 30 April 2026.
Aktivis 98 Sebut Pernyataan Amien Rais Tidak Intelektual
Supriyanto, yang akrab disapa Antok Gajah, menilai ucapan Amien Rais tidak mencerminkan sikap seorang intelektual. Dalam keterangannya pada Sabtu (2/5/2026), ia menyayangkan narasi yang dinilai tidak berbasis fakta.
Menurut Antok, tudingan yang dilontarkan berpotensi merusak kredibilitas Amien Rais sendiri. Ia menegaskan bahwa informasi tanpa bukti hanya akan menjadi intrik politik yang tidak pantas dalam ruang publik.
Pernyataan Dinilai Serang Presiden Tanpa Fakta
Lebih lanjut, Antok menilai narasi tersebut mengarah pada upaya merendahkan martabat Presiden Prabowo Subianto. Ia menyebut pernyataan itu mengandung unsur fitnah, hoaks, serta ujaran kebencian.
Sebagai aktivis yang terlibat dalam gerakan reformasi 1998, Antok menegaskan pentingnya menjaga kualitas kritik dalam demokrasi. Ia mengingatkan bahwa kritik seharusnya berbasis data, bukan serangan pribadi.
Kritik Harus Berbasis Data, Bukan Serangan Personal
Antok menjelaskan bahwa dalam demokrasi yang sehat, kritik merupakan alat untuk menjaga akuntabilitas kekuasaan. Namun, kritik yang kuat harus didukung argumen dan analisis yang jelas.
Ia mengingatkan bahwa ketika kritik kehilangan dasar faktual, maka yang muncul hanyalah labelisasi, stigma, dan insinuasi. Hal ini dinilai berbahaya karena dapat membentuk persepsi publik tanpa bukti nyata.
Demokrasi Terancam Jika Ruang Publik Dipenuhi Kebisingan
Menurut Antok, persoalan utama bukan hanya pada pihak yang diserang, tetapi pada standar diskursus yang dibangun di ruang publik. Jika serangan personal dianggap wajar, maka kualitas demokrasi akan menurun.
Ia menegaskan bahwa demokrasi seharusnya menjadi arena pertarungan gagasan, bukan ajang penyebaran opini tanpa dasar. Ketika ruang publik dipenuhi kebisingan, maka esensi demokrasi akan hilang.
Peringatan Keras: Hindari Narasi Pemecah Belah
Antok tetap mendukung kritik terhadap pemerintah, namun ia menekankan bahwa kritik harus bermartabat dan menyasar kebijakan, bukan kehidupan pribadi.
Ia juga mengingatkan agar tidak menyebarkan narasi yang dapat memicu perpecahan atau melanggar hukum, termasuk Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).
“Silakan mencari perhatian di ruang publik, tetapi jangan membangun narasi yang menimbulkan kegaduhan dan memecah belah bangsa,” tegasnya.



