Tuesday, July 23, 2024
HomeADVERTOTIALDPRD KALTIMTol KM 13 Balikpapan Beroperasi, Adam: Para Pedagang Merasakan Omset Penjualan Turun...

Tol KM 13 Balikpapan Beroperasi, Adam: Para Pedagang Merasakan Omset Penjualan Turun Drastis

DEADLINE.CO.ID, SAMARINDA- Setelah pintu tol Balikpapan-Samarinda (Balsam) yang terletak di Jalan Soekarno Hatta Km 13, Karang Joang, Balikpapan Utara dibuka, pendapatan penjual buah di Km 21 mengalami penurunan omzet.

Padahal buah yang dijual di Km 21 merupakan buah segar yang langsung diambil dari petani di sekitar daerah tersebut. Seperti buah mangga, cempedak, naga, pepaya dan lain-lain.

Terkait hal tersebut, Anggota Komisi II DPRD Kaltim Muhammad Adam menyikapi persoalan ini, ia mengatakan dampak adanya tol dari arah kota Balikpapan maupun dari kota Samarinda, penjual buah yang terkena imbasnya. Pasalnya sebelum Tol Km 13 diresmikan banyak pengendara mampir untuk membeli buah di lapak para petani.

“Selama berfungsinya tol, para pedagang merasakan omset penjualan turun drastis di bawah 50 persen,” ucapnya saat ditemui di Gedung D Lantai 3 Kantor DPRD Kaltim, baru-baru ini.

Ia pun tak tinggal diam, Adam sapaan akrabnya mengatakan, pihaknya akan mendorong pemerintah agar pedagang bisa diberikan fasilitas lapak. Sebab menurutnya, masih ada lahan di dua rest area tol Balsam yang masih minim penjual, dan pemerintah bisa memfasilitasi penjual buah agar beralih berjualan di rest area tersebut.

“Tolong perhatikan mereka, ini harus pemerintah yang menyiapkan,” ucapnya.

Ia berharap, dengan adanya persetujuan dari pemerintah untuk pemindahan lapak pedagang ke rest area tersebut dapat meningkatkan penghasilan dan perekonomian warga Km 21, khususnya para petani daerah.

“Tidak hanya itu, seluruh pengguna jalan tol bisa dengan mudah mendapatkan oleh-oleh khas Balikpapan,” pungkasnya.

Pedagang dari salah satu yang berjualan di daerah tersebut mengatakan, sebelum Tol Km 13 di buka pendapatan hasil dari jualan buah sebesar Rp 300 ribu perhari, tapi kalau sekarang paling besar sebesar Rp 70 ribu perhari. Belum lagi modalnya setiap hari. Kalau buah tidak laku kita buang, jadi kita menjadi rugi. Ucapnya.

Dia juga menjelaskan, bahwa buah yang dijual di sini merupakan hasil kebun dari warga sekitar, yang kita beli. Seperti salak pepaya dan lain-lain.

“Saya berharap bisa memiliki warung sendiri, karena warung yang saya tempati sekarang ini saya sewa, sebab kalau saya tidak dapat pembeli mau bayar pakai apa, sedangkan sewa warung ini sebesar Rp 400.000 selama satu bulan,” harapnya.

Penulis: Erick

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments