Deadline – 58.873 jemaah umrah Indonesia kini berada dalam situasi genting di tengah memanasnya perang terbuka antara Amerika Serikat–Israel melawan Iran. Konflik yang meluas di Timur Tengah mengancam keselamatan ribuan WNI yang saat ini masih berada di Arab Saudi dan belum dapat kembali ke tanah air.
Perang yang terus berkembang memicu risiko besar, termasuk penutupan ruang udara dan penghentian aktivitas maskapai penerbangan internasional. Jika jalur udara ditutup mendadak, puluhan ribu jemaah berpotensi terjebak tanpa kepastian waktu kepulangan.
Situasi semakin mencekam setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan militer Amerika Serikat–Israel pada Sabtu lalu. Insiden tersebut memicu gelombang serangan balasan Iran ke wilayah Israel dan sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan.
Komnas Haji Desak Pemerintah Bertindak
Komisi Nasional (Komnas) Haji mendesak Pemerintah RI segera hadir memberikan jaminan keselamatan bagi 58.873 jemaah umrah Indonesia yang kini berada di tengah krisis.
Ketua Komnas Haji, Mustolih Siradj, menegaskan eskalasi konflik menuntut langkah mitigasi terukur dan cepat.
“Dalam kondisi perang yang serba tidak menentu, pemerintah harus mengambil kebijakan terukur terutama dalam memberikan jaminan keamanan dan keselamatan jemaah dari dampak perang yang tidak bisa diprediksi kapan berakhir,” ujar Mustolih, Senin (2/3/2026).
Berdasarkan data Sistem Komputerisasi Pengelolaan Umrah dan Haji Khusus (SISKOPATUH), jumlah jemaah yang terdampak mencapai 58.873 orang. Mereka berisiko tertahan lebih lama apabila negara-negara sekutu Eropa turut terlibat dan ruang udara internasional ditutup total.
Skema Evakuasi dan Crisis Center
Komnas Haji menekankan pentingnya peran Kementerian Haji dan Umrah sebagai leading sector. Koordinasi intensif dinilai harus segera dilakukan bersama Kementerian Luar Negeri, maskapai penerbangan, Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU), asosiasi, serta otoritas Arab Saudi.
Komnas Haji juga mendesak pemerintah menyiapkan contingency plan atau rencana darurat.
“Kemenhaj perlu menyiapkan pusat informasi sebagai crisis center. Bahkan jika diperlukan, menyediakan tempat penampungan sementara bagi jemaah umrah hingga mempersiapkan penjemputan untuk memulangkan jemaah ke tanah air,” tegas Mustolih.
Langkah tersebut dianggap sebagai bentuk konkret perlindungan negara terhadap warganya di tengah krisis internasional.
Jemaah Umrah Mandiri Paling Rentan
Jemaah umrah mandiri atau backpacker dinilai menjadi kelompok paling rentan. Mereka berangkat tanpa naungan biro perjalanan resmi sehingga berpotensi kesulitan memperoleh akses informasi, perlindungan logistik, maupun jalur evakuasi.
Persoalan finansial juga menjadi ancaman serius. Banyak jemaah memiliki dana terbatas karena durasi tinggal bisa bertambah di luar rencana awal. Tanpa kepastian jadwal penerbangan, beban biaya akomodasi dan konsumsi bisa meningkat drastis.
Peringatan Tunda Keberangkatan
Komnas Haji mengeluarkan peringatan keras bagi calon jemaah yang sudah memiliki jadwal keberangkatan.
Masyarakat diminta menunda perjalanan hingga situasi benar-benar kondusif.
“Keselamatan nyawa harus ditempatkan di atas segala rencana ibadah di tengah ketidakpastian keamanan internasional saat ini,” tegas Mustolih.
Lion dan Etihad Hentikan Penerbangan dari Kualanamu
Dampak perang juga terasa di dalam negeri. Penerbangan dari Bandara Kualanamu menuju Timur Tengah dihentikan sementara tanpa batas waktu.
Manager Corsec Corcom PT Angkasa Pura Aviasi Bandara Kualanamu, Mohamad Hikmat, membenarkan bahwa dua maskapai terdampak adalah Lion Air dan Etihad Airways.
Lion Air melayani rute Kualanamu–Jeddah, sementara Etihad melayani rute Kualanamu–Abu Dhabi. Keduanya beroperasi tiga kali dalam seminggu.
Menurut Hikmat, tidak ada pembatalan penerbangan pada hari tertentu karena memang tidak dijadwalkan. Namun, sejak Minggu (1/3/2026), Etihad sudah tidak lagi melakukan penerbangan dari Kualanamu.
Notam (Notice to Airmen) telah dikeluarkan oleh AirNav terkait larangan terbang ke sejumlah negara di kawasan Timur Tengah, termasuk Teheran (Iran), Kabul, Tel Aviv, Oman, Bahrain, dan Kuwait.
Operasional Bandara Normal, Rute Timur Tengah Disesuaikan
Pihak Bandara Kualanamu memastikan operasional bandara secara umum tetap berjalan normal. Penyesuaian hanya berlaku untuk rute menuju negara-negara Timur Tengah.
Pengumuman resmi melalui akun Instagram @kualanamu.airport pada Minggu (1/3/2026) menyebutkan adanya penyesuaian jadwal akibat penutupan ruang udara di beberapa wilayah.
Hikmat menegaskan, detail perubahan jadwal lebih lanjut dapat dikonfirmasi langsung ke masing-masing maskapai.
Krisis ini menunjukkan dampak nyata perang terhadap mobilitas warga sipil Indonesia. Dengan ribuan jemaah masih berada di Arab Saudi, langkah cepat dan terkoordinasi dari pemerintah menjadi krusial untuk memastikan keselamatan dan kepastian kepulangan mereka.



