Deadline – Prostitusi di Jakarta tumbuh cepat setelah Indonesia merdeka. Kondisi ekonomi yang buruk memaksa banyak orang mencari cara bertahan hidup. Perempuan ikut terdorong masuk ke dunia prostitusi karena sulitnya pekerjaan.
Pada masa awal kemerdekaan, ekonomi Jakarta belum stabil. Rakyat kesulitan mencari bahan pokok seperti beras. Banyak orang harus berjalan jauh ke Bekasi dan Tambun hanya untuk mendapatkan beras. Situasi keamanan juga tidak menentu karena konflik masih terjadi.
Urbanisasi di Jakarta mulai meningkat sejak awal 1950-an. Jakarta sebagai ibu kota menarik banyak pendatang dari desa. Mereka datang dengan harapan hidup lebih baik, tetapi kenyataannya berbeda. Banyak yang tidak punya pekerjaan tetap.
Pendatang ini tinggal di kawasan sekitar stasiun seperti Senen, Manggarai, Gambir, Tanah Abang, Kota, Krekot, dan Tanjung Priok. Mereka membangun gubuk liar di pinggir rel kereta. Data tahun 1952 mencatat sekitar 30.000 gubuk liar berdiri di Jakarta.
Jumlah penduduk melonjak tajam. Dari 655.000 jiwa pada 1940 menjadi 1,82 juta pada 1954, lalu lebih dari 2 juta pada 1958. Lonjakan ini memicu masalah sosial serius seperti kemiskinan, kriminalitas, dan prostitusi.
Senen Jadi Pusat Prostitusi Jalanan
Senen Jakarta berubah drastis pada 1950-an. Siang hari ramai aktivitas ekonomi. Malam hari berubah menjadi pasar seks. Prostitusi kelas bawah terjadi di gerbong kereta bekas dan gubuk kardus.
Istilah “Planet Senen” muncul dari lokasi berkumpulnya pekerja seks dan pelanggan di gundukan tanah. Kawasan ini terkenal luas sebagai pusat prostitusi murah.
Selain itu, Senen juga dikenal sebagai pusat kriminalitas. Organisasi pencopet dipimpin oleh tokoh bernama Pi’i. Banyak anggotanya adalah orang yang gagal mendapat pekerjaan layak.
Bongkaran Tanah Abang Jadi Titik Panas
Bongkaran Tanah Abang menjadi lokasi prostitusi lain yang terkenal. Kawasan ini dekat pasar, stasiun, dan bantaran Kali Krukut. Siang hari digunakan untuk bongkar muat pasir, malam hari berubah fungsi.
Konsumen utama berasal dari sopir truk, buruh, dan pekerja kasar. Meski dikenal sebagai kawasan prostitusi, tidak semua warga terlibat langsung dalam aktivitas tersebut.
Persebaran Lokasi Prostitusi di Jakarta
Pada 1950 hingga 1960-an, prostitusi tersebar di banyak titik. Di antaranya Jalan Halimun, Kebon Sereh, belakang Stasiun Jatinegara, Kali Jodo, dan Tanah Abang.
Jakarta saat itu belum memiliki lokalisasi resmi. Prostitusi berjalan tanpa pengaturan khusus. Kondisi ini berbeda dengan Surabaya yang sudah memiliki lokalisasi sejak abad ke-19.
Kramat Tunggak: Awal Lokalisasi Resmi
Kramat Tunggak Jakarta menjadi lokalisasi resmi pertama pada 1970-an. Penetapan dilakukan melalui keputusan Gubernur Ali Sadikin.
Sebelum lokalisasi dibentuk, pada 1969 tercatat 1.668 pelacur dan 348 germo di Jakarta. Saat Kramat Tunggak mulai beroperasi, terdapat 300 pelacur dan 76 germo yang terdata.
Mata Rantai Prostitusi: Dari Pelacur Hingga Germo
Prostitusi Jakarta melibatkan banyak pihak. Ada penyedia jasa, pelanggan, dan mucikari. Sistem ini berjalan karena adanya permintaan dan penawaran.
Fenomena menarik terlihat pada pola karier pelacur. Banyak yang kemudian beralih menjadi germo. Pola ini berulang karena sulit keluar dari lingkungan tersebut.
Faktor Sosial dan Budaya Ikut Berperan
Sebagian pelacur berasal dari Jawa Barat, terutama Indramayu. Tingkat perceraian tinggi di wilayah tersebut pada 1950-an ikut mendorong migrasi perempuan ke Jakarta.
Dalam beberapa kasus, menjadi pelacur tidak selalu karena ekonomi. Ada faktor budaya yang membuat profesi ini dianggap biasa di lingkungan tertentu.
Prostitusi di Jakarta pasca kemerdekaan tidak berdiri sendiri. Masalah ini terkait langsung dengan kemiskinan, urbanisasi, dan ketimpangan sosial.
Pertumbuhan kota tanpa kontrol memicu munculnya kawasan kumuh. Dari situ lahir berbagai masalah sosial, termasuk prostitusi yang terus bertahan hingga dekade berikutnya.



