Deadline – Israel sita 70 kapal aktivis Gaza menjadi sorotan dunia setelah operasi militer di laut internasional memicu reaksi keras dari berbagai negara. Angkatan laut Israel menyita puluhan kapal milik Global Sumud Flotilla di dekat Pulau Crete, Yunani, pada Rabu (29/4/2026). Sebanyak 175 aktivis langsung ditahan dalam operasi tersebut.
Israel sita 70 kapal aktivis Gaza dilakukan saat armada kemanusiaan itu berlayar menuju Jalur Gaza. Flotilla berangkat dari Barcelona pada awal April dengan lebih dari 70 kapal dan sekitar 1.000 peserta dari berbagai negara. Penyelenggara menyebut aksi ini sebagai misi kemanusiaan terbesar untuk menembus blokade Gaza.
Pemerintah Israel melalui Kementerian Luar Negeri menyatakan penyitaan dilakukan untuk menjaga blokade maritim yang sudah lama diberlakukan. Israel juga mengklaim langkah ini penting untuk mencegah penyelundupan senjata ke wilayah Gaza. Dalam rekaman resmi yang dirilis, ditemukan sejumlah kecil obat-obatan, alat kontrasepsi, serta kantong kecil yang diklaim berisi zat tertentu.
Di sisi lain, para aktivis menggambarkan situasi berbeda. Mereka menyebut operasi berlangsung tegang dan agresif. Kapal-kapal dihentikan menggunakan kapal cepat dan drone, sementara komunikasi dilaporkan sempat terganggu. Salah satu aktivis, Tariq Ra’ouf, menyebut sebagian besar kapal dirampas dan awak dipindahkan secara paksa ke kapal militer Israel.
Ia juga menuding adanya sabotase terhadap mesin kapal. Dugaan ini muncul setelah beberapa armada dilaporkan terdampar di tengah ancaman badai besar, meningkatkan risiko keselamatan bagi para peserta.
Kelompok aktivis mengecam keras tindakan tersebut dan menyebutnya sebagai “penculikan warga sipil”. Mereka menegaskan bahwa penyitaan terjadi lebih dari 600 mil dari Gaza, wilayah yang dinilai jauh dari zona konflik aktif.
Namun, Israel menolak tudingan tersebut. Pemerintah menyebut flotilla itu hanya aksi publisitas dan bukan misi bantuan yang sah. Israel menegaskan bahwa seluruh bantuan kemanusiaan ke Gaza harus melalui jalur resmi, yakni Dewan Perdamaian dan Pusat Koordinasi Sipil-Militer Israel (CMCC).
Ketegangan diplomatik pun meningkat. Turki menjadi salah satu negara paling keras mengecam operasi tersebut dan menyebutnya sebagai “pembajakan”. Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, dilaporkan telah berkomunikasi dengan Menteri Luar Negeri Spanyol, Jose Manuel Albares Bueno, untuk membahas situasi ini.
Sementara itu, Komisi Eropa mengambil sikap lebih hati-hati. Mereka menegaskan pentingnya kebebasan navigasi internasional, namun tidak memberikan kecaman langsung terhadap Israel. Sebelumnya, Komisi Eropa juga telah memperingatkan tingginya risiko bagi peserta misi semacam ini.
Italia bergerak cepat untuk melindungi warganya. Menteri Luar Negeri Antonio Tajani meminta kedutaan besar di Tel Aviv dan Athena untuk segera mencari klarifikasi. Warga Italia disebut menjadi mayoritas dari total aktivis yang ditahan, bersama sejumlah warga Spanyol.
Swedia juga mengeluarkan peringatan resmi. Menteri Luar Negeri Maria Malmer Stenergard menegaskan bahwa warga negaranya yang ikut dalam flotilla telah mengambil risiko secara sadar.
Di Athena, Yunani, gelombang protes mulai muncul. Aktivis berencana mengepung kementerian luar negeri Yunani sebagai bentuk protes terhadap sikap penjaga pantai yang dianggap tidak bertindak. Mereka menilai penyitaan terjadi di zona pencarian dan penyelamatan maritim Yunani, sehingga seharusnya ada intervensi.
Situasi ini memperlihatkan eskalasi baru dalam konflik terkait Gaza, khususnya di jalur laut internasional. Hingga kini, nasib ratusan aktivis yang ditahan masih menjadi perhatian komunitas global.


