Keracunan MBG di Klaten: 500 Siswa Tumbang, Ini Biang Keroknya

Deadline – Kasus keracunan MBG di Kecamatan Tulung, Klaten menyeret perhatian publik. Sekitar 500 orang terdiri dari siswa dan guru mengalami gejala serius setelah menyantap makanan program Makan Bergizi Gratis.

Kasus keracunan MBG ini langsung ditelusuri oleh Dinas Kesehatan Klaten. Hasil uji laboratorium mengungkap fakta penting. Sampel makanan seperti telur puyuh, galantin, dan kuah timlo positif mengandung bakteri berbahaya.

Kepala Dinas Kesehatan Klaten, Anggit Budiarto, memastikan hasil tersebut berasal dari pemeriksaan Balai Besar Labkesmas. Bakteri yang ditemukan adalah Bacillus Sp, yang dikenal dapat memicu gangguan pencernaan akut.

Bakteri Bacillus Sp menjadi penyebab utama gejala yang muncul. Siswa dan guru mengalami mual, pusing, muntah, hingga diare dalam waktu singkat setelah mengonsumsi makanan.

Anggit menjelaskan perbedaan Bacillus Sp dengan E. coli. E. coli umumnya berasal dari air dan bisa mati jika dimasak dengan benar. Sementara Bacillus Sp lebih tahan karena dapat berkembang di udara dan meninggalkan spora berbahaya.

Spora Bacillus ini menjadi masalah utama. Bakteri bisa mencemari makanan saat proses pengepakan yang tidak higienis. Ketika spora masuk ke tubuh, gejala keracunan langsung muncul.

Peristiwa ini bermula pada Selasa, 28 April. Para siswa mengonsumsi menu sop galantin dalam program MBG. Beberapa jam setelah makan, gejala mulai dirasakan pada malam hari hingga pagi.

Baca Juga  Saat Kebakaran Hebat Hancurkan Rumah Anisa Rahma, Ajaib! 3.500 Alquran Justru Tak Tersentuh Api

Orang tua siswa mulai panik. Banyak siswa mengeluh mual dan pusing. Sebagian mengalami diare. Mereka kemudian dibawa ke puskesmas dan rumah sakit terdekat.

Salah satu orang tua siswa, Bekti, menceritakan kondisi anaknya. Anaknya yang duduk di kelas VII SMPN 1 Tulung mulai merasa mual setelah Maghrib. Kondisinya tidak membaik hingga pagi, lalu dibawa ke Puskesmas Majegan.

Lonjakan pasien terjadi dalam waktu singkat. Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, turun langsung ke lapangan. Ia menemukan jumlah korban terus bertambah dan tersebar di beberapa fasilitas kesehatan, termasuk RS PKU Muhammadiyah Jatinom.

Sebagian pasien sempat dirawat inap. Namun kondisi mereka berangsur membaik. Kepala Puskesmas Majegan, Efy Kusumawati, memastikan seluruh pasien sudah pulih dan tidak ada lagi yang dirawat.

Kasus ini menegaskan pentingnya standar kebersihan dalam pengolahan makanan массов. Proses penyimpanan dan distribusi menjadi titik kritis yang tidak boleh diabaikan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Teratas

spot_img

TERPOPULER