Deadline – Aksi berbahaya dilakukan pelajar SMP Negeri 34 Medan demi bisa sekolah. Mereka harus berjalan di atas pipa air setinggi sekitar 10 meter yang membentang di atas Sungai Deli, Sabtu (18/4).
Pemandangan ini terjadi setiap hari. Para siswa memilih jalur ekstrem karena tidak punya pilihan lain yang mudah dan murah.
Salah satu pelajar berinisial CH mengaku terpaksa melakukannya. Ia tidak memiliki uang untuk ongkos angkutan umum. Selain itu, jalur alternatif memakan waktu lebih lama.
“Kalau mutar jauh, ke Titi Kuning sana. Naik angkot gak ada ongkos. Rp4 ribu pulang pergi,” kata CH.
Kondisi ini bukan tanpa sebab. Warga setempat, Abdul, menjelaskan jembatan penghubung antara Gang Perbatasan dan Kalang Sari sudah putus sejak tahun lalu. Sejak saat itu, akses utama warga hilang.
“Dulu lewat jembatan itu. Tapi sudah putus. Sekarang warga dan anak sekolah lewat pipa,” ujar Abdul.
Situasi sempat viral di media sosial. Pihak kelurahan kemudian memasang penghalang agar pipa tidak bisa dilalui. Namun, langkah itu belum efektif.
“Dua hari lalu sudah dibuat penghalang. Tapi masih ada yang nekat. Dulu sebelum ada penghalang, pelajar perempuan juga lewat. Sekarang kebanyakan laki-laki,” jelasnya.
Pantauan di lapangan menunjukkan hal yang sama. Sejumlah pelajar tetap memanjat dan berjalan di atas pipa meski sudah ada pagar besi. Risiko jatuh ke sungai tetap mengancam.
Abdul berharap pemerintah segera bertindak. Ia meminta perbaikan jembatan menjadi prioritas agar akses aman kembali tersedia.
“Kasihan anak-anak sekolah. Syukurnya belum ada korban. Kami harap segera dibangun,” katanya.
Kondisi ini memperlihatkan persoalan akses dasar yang belum tuntas. Pelajar harus memilih antara risiko keselamatan atau putus sekolah.



