Deadline – Program MBG kembali jadi sorotan. Kritik terhadap program makan bergizi gratis memicu dugaan intimidasi terhadap aktivis perempuan Kalis Mardiasih. Tekanan itu tidak hanya muncul di ruang digital, tetapi juga menyentuh keluarganya.
Kalis mengaku mulai mengalami tekanan setelah ia mengunggah kritik terkait kasus keracunan massal yang diduga terkait pelaksanaan Program MBG di sejumlah daerah. Ia menyampaikan pendapatnya melalui Instagram dan Facebook.
Dampaknya langsung terasa. Keponakannya dihubungi oleh guru dan ditanya soal hubungan keluarga dengan Kalis. Bagi Kalis, peristiwa ini bukan hal biasa. Ia menilai tindakan tersebut sebagai bentuk teror yang menyasar keluarga.
Kalis menyampaikan hal itu dalam diskusi publik bertema makan bergizi gratis dan pendidikan yang digelar oleh Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia secara daring pada 4 Mei 2026. Ia menilai kritik di ruang publik seharusnya tidak berujung pada tekanan personal.
Kasus Keracunan MBG Belum Jelas
Isu yang dikritik Kalis bukan tanpa dasar. Ia menyoroti sejumlah kasus keracunan massal yang diduga berkaitan dengan program MBG. Salah satu kasus besar terjadi di Bandung Barat dengan hampir 2.000 korban.
Menurut Kalis, kasus serupa juga muncul di Blora, Pati, Kudus, Grobogan, hingga Yogyakarta. Bahkan, keponakannya sendiri pernah diduga mengalami keracunan dan harus dirawat di rumah sakit.
Namun, ia menilai tidak ada pengakuan resmi dari pihak terkait. Beberapa kasus disebut hanya sebagai diare, bukan keracunan makanan. Kalis menilai penjelasan itu tidak menjawab substansi masalah.
Tidak Ada Pertanggungjawaban
Kalis menegaskan hingga hampir satu tahun berlalu, tidak ada kejelasan soal evaluasi program maupun pihak yang dimintai tanggung jawab. Ia menyebut tidak pernah mendengar ada satu nama pun yang diperiksa atau dimintai pertanggungjawaban.
Padahal, menurutnya, kasus keracunan massal seharusnya memicu evaluasi menyeluruh. Ia berharap ada pernyataan keprihatinan atau permintaan maaf resmi dari pemerintah serta langkah konkret agar kejadian serupa tidak terulang.
Kritik Tata Kelola dan Pengawasan
Selain soal dampak kesehatan, Kalis juga menyoroti desain program MBG. Ia menilai tidak ada mekanisme pengawasan yang jelas, baik dari sisi keamanan pangan maupun distribusi.
Kondisi ini memicu kekhawatiran di kalangan orang tua. Kalis menyebut sekolah yang seharusnya menjadi tempat aman justru memunculkan rasa cemas akibat program tersebut.
Ia menekankan bahwa keamanan anak harus menjadi prioritas utama. Program apa pun, termasuk MBG, harus menjamin hal itu.
Latar Aksi dan Gerakan Sipil
Kalis dikenal aktif dalam kelompok masyarakat sipil “Suara Ibu Indonesia” di Yogyakarta. Kelompok ini pernah menggelar aksi simbolik “gebrak panci” di kawasan Universitas Gadjah Mada pada pertengahan 2025.
Aksi tersebut menjadi bentuk protes terhadap kasus keracunan massal yang terjadi saat itu. Gerakan ini menunjukkan keresahan publik terhadap implementasi program MBG di lapangan.
Belum Ada Respons Resmi
Hingga berita ini disusun, belum ada tanggapan dari Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, terkait dugaan intimidasi yang dialami Kalis.
Kondisi ini menambah daftar pertanyaan publik. Kritik muncul, kasus terjadi, namun respons resmi belum terlihat.



