Deadline – Presiden Prabowo Subianto menegaskan sistem perekonomian Indonesia dalam beberapa tahun terakhir berada di jalur yang tidak tepat. Pernyataan itu disampaikan saat pidato dalam Rapat Paripurna DPR RI yang membahas Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal untuk APBN 2027, Rabu 20 Mei 2026.
Prabowo menyoroti rendahnya rasio penerimaan negara terhadap Produk Domestik Bruto atau PDB. Menurutnya, angka tersebut menjadi yang paling rendah di antara negara G20 maupun beberapa negara ASEAN.
Dalam pidatonya, Prabowo membandingkan data International Monetary Fund atau IMF. Meksiko disebut memiliki rasio penerimaan negara sebesar 25 persen terhadap PDB. India berada di angka 20 persen. Filipina mencapai 21 persen dan Kamboja 15 persen. Sementara Indonesia hanya berada di kisaran 11 sampai 12 persen.
Prabowo menilai kondisi itu sangat ironis karena Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah. Namun kekayaan tersebut dinilai belum mampu diubah menjadi penerimaan negara yang kuat.
Ia mempertanyakan penyebab Indonesia tertinggal dari negara lain seperti Malaysia, Filipina hingga Kamboja.
“Rasio penerimaan negara kita terhadap PDB kita adalah yang paling rendah di antara negara-negara G20,” ujar Prabowo dalam pidatonya.
Prabowo juga meminta seluruh pihak melakukan introspeksi terhadap sistem yang berjalan selama ini. Ia menilai Indonesia belum mampu mengelola ekonomi secara maksimal sehingga pendapatan negara masih tertinggal dibanding negara lain.
Pertumbuhan Ekonomi 5 Persen Dinilai Tidak Berdampak
Ketua Umum Partai Gerindra itu mengungkapkan ekonomi Indonesia sebenarnya konsisten tumbuh sekitar 5 persen setiap tahun dalam tujuh tahun terakhir.
Menurut Prabowo, jika pertumbuhan tersebut dikalkulasikan maka Indonesia seharusnya sudah bertambah sekitar 35 persen dalam periode tujuh tahun.
Namun fakta yang diterimanya justru menunjukkan kondisi berbeda. Prabowo menyebut angka kemiskinan meningkat sekitar 3 persen. Sementara jumlah masyarakat kelas menengah turun dari 22 persen menjadi 17 persen.
Ia mengaku terpukul setelah menerima data tersebut beberapa minggu usai dilantik menjadi Presiden Indonesia.
Prabowo mempertanyakan bagaimana pertumbuhan yang stabil justru tidak mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara merata.
“Bagaimana bisa pertumbuhan 35 persen tapi kelas menengah menurun, kemiskinan meningkat,” kata Prabowo.
Prabowo Sebut Ekonomi RI Berada di Trajektori Tidak Tepat
Prabowo menegaskan jawaban atas persoalan ekonomi nasional harus berdasarkan pendekatan ilmiah dan matematis. Ia meyakini ada kesalahan mendasar dalam sistem ekonomi yang diterapkan selama ini.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang tidak diikuti peningkatan kesejahteraan rakyat menunjukkan bahwa arah kebijakan ekonomi nasional perlu diperbaiki.
Prabowo menyebut Indonesia harus segera membenahi sistem agar cita-cita menjadi negara maju dan makmur bisa tercapai.
Ia juga mengingatkan seluruh pihak agar tidak terus menerus diliputi rasa takut dalam mengambil langkah perubahan. Menurutnya, Indonesia bisa gagal menjadi negara makmur jika pola saat ini terus dipertahankan dalam jangka panjang.
Prabowo menegaskan kemakmuran menjadi syarat penting untuk menjaga kedaulatan bangsa di masa depan.



