Gentengisasi Nasional: Gebrakan Kuat Prabowo Ubah Wajah Atap Rumah Indonesia

Deadline – Gentengisasi menjadi program baru yang digagas Presiden Prabowo Subianto untuk mengubah wajah atap rumah di Indonesia. Program ini menargetkan penggunaan genteng sebagai material utama atap rumah, menggantikan seng yang dinilai panas, mudah berkarat, dan tidak nyaman bagi penghuni.

Gagasan gentengisasi nasional disampaikan langsung oleh Presiden Prabowo dalam Taklimat Presiden RI pada Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul, Senin (2/2/2026). Ia menegaskan keinginannya agar rumah-rumah di Indonesia kembali menggunakan genteng sebagai ciri hunian yang sehat dan nyaman.

Prabowo menilai atap seng tidak mencerminkan karakter Indonesia sebagai negara tropis. Seng membuat suhu rumah lebih panas dan mengurangi kualitas hidup masyarakat. Karena itu, genteng dipilih sebagai solusi yang lebih aman, sehat, dan nyaman.

Data BPS: Genteng Masih Dominan, Tapi Belum Merata

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2021, genteng memang masih menjadi material atap paling banyak digunakan secara nasional, yakni sekitar 55,86 persen. Namun, penggunaannya belum merata di seluruh daerah.

Provinsi dengan penggunaan genteng tertinggi adalah DI Yogyakarta sebesar 94,38 persen, disusul Jawa Timur 91,56 persen, dan Jawa Tengah 86,35 persen. Di luar Pulau Jawa, penggunaan genteng jauh lebih rendah dan digantikan oleh seng atau material lain.

Di Nusa Tenggara Timur, khususnya Sumba, hanya 0,93 persen rumah yang menggunakan genteng. Sebagian besar rumah masih memakai seng hingga 92,86 persen, serta jerami, ijuk, atau daun rumbia sekitar 5,19 persen.

Baca  Hashim Djojohadikusumo Sebut Ada yang Mau Kudeta Presiden Prabowo

Kenapa Genteng Tidak Dipakai Semua Rumah?

Ketua Umum Ikatan Pengusaha Bahan Bangunan Indonesia (IPBBI), Gomas Harun, menjelaskan bahwa genteng tanah liat memiliki kelemahan alami. Faktor cuaca membuat genteng mudah berlumut dan berubah warna dari terakota menjadi kehitaman.

Lumut yang menumpuk dapat menurunkan kualitas genteng. Dalam jangka panjang, genteng bisa retak dan menyebabkan kebocoran. Selain itu, pemasangan genteng yang tidak presisi sering menyisakan celah kecil yang menjadi jalan masuk air hujan.

Menurut Gomas, atap yang baik adalah atap yang tidak menampakkan cahaya dari dalam rumah. Jika cahaya masih terlihat, berarti ada celah yang berpotensi menyebabkan bocor.

Masalah juga sering muncul saat perbaikan genteng. Kesalahan menginjak genteng saat perbaikan dapat membuat genteng lain ikut retak karena menahan beban berlebih.

Inovasi Atap dan Faktor Harga

Seiring perkembangan teknologi, kini hadir genteng keramik, atap logam galvalum, spandek, hingga atap flat bitumen. Material ini lebih presisi dan tidak mudah berubah bentuk.

Namun, harga menjadi faktor utama. Genteng tanah liat biasa lebih murah dibanding genteng keramik. Rumah subsidi cenderung memilih seng atau galvalum karena biaya lebih rendah dan pemasangan lebih cepat.

Budaya dan Struktur Rumah Jadi Penentu

Perbedaan budaya juga memengaruhi pemilihan atap rumah. Rumah tradisional di berbagai daerah dirancang sesuai kondisi alam dan bahan lokal yang tersedia.

Baca  Pajak Kendaraan Kini Lebih Mudah: Cukup KTP Sendiri, Tak Perlu Pemilik Lama

Di Sumba, misalnya, rumah tradisional menggunakan ilalang sebagai penutup atap. Material ini sesuai dengan struktur rumah adat meskipun daya tahannya lebih rendah dibanding genteng.

Genteng Dinilai Cocok untuk Iklim Tropis

Meski tidak sempurna, genteng tanah liat tetap dipercaya sebagai atap ideal di negara tropis. Bahan tanah liat tidak menyerap panas, sehingga suhu di dalam rumah lebih sejuk meski cuaca di luar terik.

Selain itu, industri genteng di Indonesia sebagian besar dikuasai produsen lokal. Sekitar 95 persen genteng diproduksi di dalam negeri. Sejarahnya panjang, bermula dari petani yang memproduksi genteng saat masa tanam sawah tidak aktif, hingga kini berkembang menjadi industri berskala besar.

Gentengisasi Masuk Gerakan Indonesia ASRI

Presiden Prabowo memasukkan gentengisasi sebagai bagian dari Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah). Ia menilai genteng lebih mencerminkan wajah Indonesia dan meningkatkan kualitas hunian rakyat.

Prabowo juga menyebut bahwa peralatan pabrik genteng tidak mahal. Pemerintah berencana melibatkan koperasi Merah Putih dengan melengkapi mereka menggunakan pabrik genteng berbahan dasar tanah yang dicampur zat limbah agar lebih ringan dan kuat.

Pemerintah Siapkan Skema dan Anggaran

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa pemerintah telah melakukan studi terkait penggantian atap seng dengan genteng. Genteng yang digunakan nantinya berbasis fly ash, yaitu limbah hasil pembakaran batu bara.

Baca  Cicilan Kopdes Merah Putih Ditanggung Negara, Plafon Rp 3 Miliar per Gerai

Dari sisi pembiayaan, Airlangga memastikan program gentengisasi memungkinkan dibiayai melalui APBN. Pemerintah juga telah menghitung estimasi biaya dan menyatakan program ini layak secara fiskal.

Program gentengisasi bukan sekadar mengganti atap rumah, tetapi menjadi upaya jangka panjang untuk meningkatkan kenyamanan, kesehatan, dan identitas hunian masyarakat Indonesia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

TERPOPULER

Â