Deadline – Polemik Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat belum mereda. Sorotan kini tertuju kepada siswi SMAN 1 Pontianak, Josepha Alexandra alias Ocha, yang sebelumnya viral setelah memprotes keputusan juri saat final lomba.
Nama Ocha menjadi perhatian publik setelah jawaban yang ia berikan dinyatakan salah oleh juri hingga timnya mendapat pengurangan nilai 5 poin. Namun beberapa saat kemudian, pertanyaan yang sama dilempar kepada tim lain dari SMAN 1 Sambas dan jawaban serupa justru dinyatakan benar dengan nilai 10 poin.
Video protes Ocha menyebar luas di media sosial. Banyak masyarakat menilai keputusan juri tidak konsisten. MPR RI kemudian mengakui adanya kekeliruan penilaian dari dewan juri dalam perlombaan tersebut.
Di tengah dukungan publik yang terus mengalir, muncul kabar mengejutkan. Ocha disebut menerima pesan ancaman dari orang tak dikenal melalui ponselnya.
Informasi itu pertama kali diunggah akun Threads @zvanniisygg yang mengaku sebagai pihak keluarga. Dalam unggahan tersebut terlihat tangkapan layar pesan WhatsApp bernada ancaman hukum.
“Selamat pagi, kami infokan kembali untuk hapus video yang ada di IG, jika tidak kami akan layangkan somasi,” demikian isi pesan yang beredar.
Kabar itu membuat publik semakin ramai membicarakan kondisi psikologis Ocha. Akun @will_bertus1996 bahkan menyebut keponakannya menjadi murung dan lebih sering mengurung diri di kamar sejak polemik lomba memanas.
“Mohon keadilan untuk keponakan saya khususnya ananda Ocha,” tulis akun tersebut dalam unggahan yang viral di media sosial.
Namun pihak SMAN 1 Pontianak segera memberikan klarifikasi resmi. Melalui akun Instagram sekolah, mereka membantah kabar yang menyebut Ocha mengalami tekanan mental berat atau intimidasi.
Sekolah menyebut informasi yang beredar di media sosial sebagai hoaks dan meminta masyarakat lebih bijak menyaring informasi.
“Terimakasih atas atensi besar dan kepedulian terhadap Yosepha. Kami mengonfirmasi bahwa berita ini hoax dan tidak bersangkutan dengan Yosepha,” tulis akun resmi sekolah.
Meski diterpa kontroversi, perhatian terhadap Ocha justru datang dari tingkat nasional. Ia bersama pihak sekolah mendapat undangan bertemu Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka di Jakarta.
Pertemuan tertutup selama sekitar satu jam di Istana Wakil Presiden itu berisi motivasi dan arahan mengenai public speaking serta cara menghadapi perdebatan di ruang publik.
“Ini menjadi suatu harapan dan semangat bagi kami untuk terus melangkah maju dan berkembang,” ujar Ocha usai pertemuan.
Ia mengaku mendapat banyak masukan mengenai mentalitas, teknik berbicara, hingga cara menyampaikan pendapat di depan umum.
Selain itu, anggota DPR/MPR RI Rifqinizamy Karsayuda juga disebut memberikan apresiasi berupa tawaran beasiswa pendidikan ke China.
SMAN 1 Pontianak Tegas Tolak Tanding Ulang
Di tengah polemik yang terus berkembang, SMAN 1 Pontianak mengambil keputusan mengejutkan. Sekolah menolak tanding ulang final LCC Empat Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat meski merasa dirugikan akibat kesalahan penilaian juri.
Keputusan itu disampaikan secara resmi pada 9 Mei 2026. SMAN 1 Pontianak memilih menghormati hasil akhir lomba dan mendukung SMAN 1 Sambas untuk maju mewakili Kalbar ke tingkat nasional.
Sikap tersebut mendapat respons dari Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno.
Eddy mengatakan MPR menghormati keputusan SMAN 1 Pontianak dan kini menunggu surat resmi dari pihak sekolah sebelum menentukan langkah lanjutan.
“Kami menghormati dan mengapresiasi apa yang sudah diputuskan oleh SMAN 1,” kata Eddy kepada wartawan, Jumat 15 Mei 2026.
Menurut Eddy, sikap SMAN 1 Pontianak yang tetap mendukung SMAN 1 Sambas menunjukkan jiwa legawa dan sportivitas.
Ia juga mengapresiasi komitmen sekolah yang tetap ingin mengikuti LCC Empat Pilar pada tahun-tahun mendatang meski diterpa kontroversi besar.
Federasi Guru Kritik Rencana Lomba Ulang
Rencana MPR RI menggelar ulang final LCC mendapat penolakan dari Federasi Serikat Guru Indonesia atau FSGI.
Ketua Umum FSGI Fahriza Marta Tanjung menilai kesalahan juri tidak boleh dibebankan kepada peserta didik.
“Kesalahan juri tidak boleh dibebankan kepada peserta. Anak-anak sudah berjuang secara sportif dan hasil lomba seharusnya tetap dihormati,” ujarnya.
Ketua Dewan Pakar FSGI Retno Listyarti juga menilai pengulangan lomba berpotensi memunculkan dampak psikologis terhadap peserta.
Menurut FSGI, jika lomba diulang maka seluruh sekolah harus mempersiapkan diri kembali. Situasi itu dinilai dapat menambah tekanan mental, biaya tambahan, hingga potensi sengketa baru.
FSGI meminta MPR fokus memperbaiki sistem penjurian agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.
Juri Disorot, Belum Ada Permintaan Maaf
Sorotan publik juga mengarah kepada dua dewan juri lomba yang hingga kini belum menyampaikan permintaan maaf terbuka.
Sikap diam itu dikritik Pengamat Pendidikan Indra Charismiadji.
Ia menilai belum adanya pernyataan resmi dari para juri menunjukkan sikap arogan di tengah polemik yang sudah meluas.
“Saya belum melihat dari para juri membuat pernyataan maaf secara resmi,” ujarnya dalam tayangan Kompas TV.
Hingga kini polemik LCC Empat Pilar MPR di Kalimantan Barat masih menjadi perhatian publik. Di tengah tekanan, dukungan kepada Ocha dan SMAN 1 Pontianak terus mengalir dari masyarakat luas.



