Ketua Dewan Pers Bongkar Fakta: Indonesia Setengah Republik, Setengah Kerajaan

Deadline – Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat menyebut Indonesia belum sepenuhnya berbentuk negara republik. Ia menilai unsur kerajaan masih kuat dan nyata dalam praktik kehidupan bernegara.

Pernyataan itu disampaikan Ketua Dewan Pers, Komaruddin dalam Sarasehan Kebangsaan 01 yang digelar Dewan Nasional Pergerakan Indonesia Maju bersama Universitas Indonesia, Selasa, 27 Januari 2026.

Komaruddin menjelaskan Negara Kesatuan Republik Indonesia lahir dari penggabungan banyak kerajaan. Kerajaan di Aceh, Maluku, dan wilayah lain memilih melepas kekuasaan mereka untuk bergabung ke dalam NKRI.

Menurut Ketua Dewan Pers, para sultan bergabung karena mempercayai janji negara baru. Mereka menyerahkan kedaulatan kerajaan dan menyatu dalam struktur republik.

“Indonesia setengah kerajaan, setengah republik. Bahannya kerajaan. Sultan-sultan melepas kesultanannya lalu bergabung,” ujar Komaruddin dalam forum tersebut.

Namun Komaruddin menilai proses itu tidak berakhir ideal. Ia menyebut kerajaan-kerajaan tersebut justru merasa dikhianati setelah Indonesia merdeka. Ia tidak merinci bentuk pengkhianatan yang dimaksud.

“Tapi setelah merdeka malah dikhianati,” katanya singkat.

Meski begitu, Komaruddin menegaskan bentuk republik tetap paling sesuai bagi Indonesia. Ia menilai republik Indonesia lahir dari realitas sejarah yang majemuk dan beragam.

“Republik di Indonesia sudah cocok. Karena republik ini punya akar realitas historis yang plural,” ucapnya.

Komaruddin juga mengkritik perilaku elite politik yang dinilainya masih mencerminkan budaya kerajaan. Ia mencontohkan kebiasaan pemimpin yang mempertahankan simbol feodal seperti cium tangan.

Baca  Akhirnya MBG Disaring Ketat! Prabowo Subianto Tegaskan Hanya untuk Anak Kurang Gizi

Ia turut menyinggung partai politik yang dinilai belum sepenuhnya demokratis. Menurutnya, struktur parpol masih menyerupai kerajaan kecil dengan kekuasaan terpusat.

“Parpol itu semi sultan kerajaan. Demokrasinya patut dipertanyakan,” kata Komaruddin.

Ia menyimpulkan kondisi tersebut membuat demokrasi Indonesia berjalan di ruang abu-abu. Republik tetap berdiri, namun budaya kekuasaan lama belum benar-benar ditinggalkan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

TERPOPULER