Deadline – Jakarta sejak awal berdiri sebagai kota pelabuhan penting bernama Sunda Kelapa. Kota ini berada di muara Kali Ciliwung dan menjadi bagian dari Kerajaan Pajajaran.
Sunda Kelapa ramai oleh kapal dari berbagai wilayah Nusantara dan dunia. Pedagang dari Asia Barat dan Cina datang untuk berdagang. Pelabuhan ini bukan sekadar tempat singgah, tetapi pusat transaksi komoditas penting seperti bahan makanan, kayu, dan kebutuhan pelayaran.
Fatahillah Ubah Sunda Kelapa Jadi Jayakarta
Pada 22 Juni 1527, pasukan Demak di bawah Fatahillah merebut Sunda Kelapa. Nama kota itu langsung diubah menjadi Jayakarta.
Nama Jayakarta berarti kemenangan yang nyata. Setelah itu, wilayah ini masuk ke dalam kekuasaan Kesultanan Banten dan terus berkembang sebagai kota pelabuhan strategis.
VOC Hancurkan Jayakarta dan Bangun Batavia
Tanggal 30 Mei 1619 menjadi titik balik besar. VOC menaklukkan Jayakarta di bawah pimpinan J.P. Coen.
Setelah kemenangan itu, Jayakarta dibakar habis. Di atas puing-puing kota lama, VOC membangun Batavia. Kota ini dirancang meniru kota di Belanda dan dilengkapi benteng pertahanan.
Pada 4 Maret 1621, Batavia resmi menjadi pusat pemerintahan dengan nama Stad Batavia. Kota ini kemudian menjadi pusat perdagangan dan administrasi kolonial.
Daendels Pindahkan Pusat Kota ke Weltevreden
Setelah VOC runtuh pada 1799, perubahan besar kembali terjadi. Tahun 1808, Daendels menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda.
Ia memindahkan pusat pemerintahan dari Batavia lama ke wilayah baru bernama Weltevreden atau Batavia Baru. Langkah ini mengubah arah perkembangan kota secara signifikan.
Jepang Ganti Nama Batavia Jadi Jakarta
Nama Batavia bertahan hingga 1942. Saat Jepang menguasai wilayah ini, nama kota diubah menjadi Jakarta Toko Betsu Shi.
Perubahan ini diumumkan lewat Maklumat Gunseikanbu pada 8 Desember 1942. Nama Jakarta kemudian terus digunakan hingga sekarang.
Jejak Awal Prostitusi Muncul Sejak Era Batavia
Sejak masa awal Batavia, praktik pergundikan mulai berkembang. Sistem ini menjadi salah satu cikal bakal prostitusi di Jakarta.
Menurut catatan Ridwan Saidi, lokasi prostitusi pertama berada di kawasan Macao Po. Tempat ini berupa rumah bertingkat di depan Stasiun Beos, yang kini dikenal sebagai Stasiun Jakarta Kota.
Para pekerja seks di kawasan ini berasal dari Macao. Mereka didatangkan oleh perantara Portugis dan Cina untuk melayani tentara Belanda di kawasan Binnenstadt. Selain itu, tempat ini juga menjadi lokasi hiburan bagi kalangan kaya Cina.
Urbanisasi 1950-an Picu Lonjakan Prostitusi
Memasuki tahun 1950-an, Jakarta mengalami lonjakan penduduk akibat urbanisasi besar-besaran. Banyak orang datang dengan harapan mendapatkan pekerjaan dan kehidupan lebih baik.
Namun, lapangan kerja terbatas. Jumlah pencari kerja jauh lebih besar dibanding peluang yang tersedia. Kondisi ini memicu peningkatan pengangguran.
Situasi tersebut mendorong berkembangnya sektor informal, termasuk prostitusi. Praktik ini muncul di berbagai lokasi seperti Bendungan Hilir, Bongkaran, Kali Malang, dan sekitar Stasiun Senen.
Jakarta Malam Hari Jadi Mesin Ekonomi Tersembunyi
Sejak saat itu, aktivitas ekonomi Jakarta tidak hanya berlangsung di siang hari. Malam hari menjadi waktu aktif bagi sektor jasa, termasuk layanan seks.
Geliat ini membentuk wajah lain Jakarta sebagai kota yang hidup selama 24 jam. Aktivitas ekonomi malam hari terus berkembang seiring pertumbuhan penduduk dan kebutuhan hidup.



