Deadline – Program makan bergizi gratis atau MBG mulai diarahkan lebih tajam. Pemerintah tidak lagi ingin membagikan bantuan secara merata. Fokus utama kini mengarah pada anak-anak yang benar-benar membutuhkan.
Prabowo Subianto menegaskan bahwa program ini tidak ditujukan untuk semua anak. Anak dari keluarga mampu dinilai tidak perlu menerima bantuan karena kebutuhan gizi mereka sudah tercukupi di rumah.
Kebijakan ini muncul di tengah ambisi besar pemerintah menjadikan MBG sebagai solusi nasional masalah gizi. Namun tanpa sasaran yang jelas, program berisiko tidak efektif.
Evaluasi Jadi Titik Balik
Pengamat kebijakan publik dari Universitas Indonesia, Lina Miftahul Jannah, menilai langkah ini sebagai momentum penting.
Ia menyebut program MBG perlu evaluasi menyeluruh agar tidak berjalan secara umum. Menurutnya, ketepatan sasaran harus menjadi prioritas utama.
Lina menegaskan tujuan awal MBG sudah jelas. Program ini dirancang untuk menyediakan makanan bergizi gratis. Namun tanpa penentuan target yang spesifik, manfaatnya bisa tidak maksimal.
Fokus ke Anak Rentan dan Minim Akses
Lina menyoroti pentingnya fokus pada kelompok rentan. Anak-anak dari keluarga miskin menjadi prioritas utama.
Ia juga menekankan faktor akses. Banyak anak tidak mendapatkan makanan bergizi bukan hanya karena ekonomi, tetapi juga karena lokasi yang jauh atau keterbatasan distribusi pangan.
Wilayah terpencil sering menjadi contoh nyata. Anak-anak di daerah ini kesulitan mendapatkan makanan bergizi meski ada kemampuan ekonomi terbatas.
Data PIP Jadi Kunci
Untuk memperbaiki akurasi, Lina mengusulkan pemanfaatan data Program Indonesia Pintar.
Data ini dinilai mampu mengidentifikasi anak dari keluarga kurang mampu. Sekolah dapat menjadi pintu masuk untuk validasi data penerima.
Ia juga menyarankan integrasi dengan Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional. Sinkronisasi dua data ini akan mempercepat verifikasi dan mengurangi salah sasaran.
Pemerintah Tegas: Tidak Dipaksakan
Dari sisi pelaksana, Badan Gizi Nasional memastikan kebijakan ini berjalan sesuai arahan presiden.
Wakil Kepala BGN, Nanik S. Deyang, menegaskan bahwa program tidak boleh dipaksakan untuk semua anak.
Menurutnya, anak dari keluarga mampu tidak membutuhkan MBG. Orang tua mereka sudah bisa menyediakan makanan bergizi secara mandiri.
Pengawasan Diperketat
BGN kini menyiapkan tim khusus untuk memilah penerima manfaat. Tujuannya jelas, meningkatkan efisiensi dan memastikan dampak nyata di lapangan.
Pengawasan dan evaluasi akan diperkuat. Pendekatan berbasis kebutuhan menjadi kunci utama keberhasilan program.
Dengan langkah ini, MBG tidak lagi sekadar program bantuan. Pemerintah ingin menjadikannya solusi konkret untuk mengatasi masalah gizi secara tepat sasaran.



