Deadline – Polemik BGN kembali menjadi sorotan publik. Kritik datang dari berbagai arah, mulai dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), penggunaan anggaran, hingga sikap pimpinan lembaga.
Isu ini memicu desakan keras agar Presiden Prabowo Subianto mengambil tindakan tegas terhadap Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana.
Anggaran Jumbo BGN Jadi Sorotan Tajam
Polemik BGN menguat setelah rincian anggaran mencuat ke publik. Beberapa pengeluaran yang disorot antara lain:
- Pengadaan motor listrik Rp 1,2 triliun
- Sewa event organizer Rp 113 miliar
- Pembelian kaos kaki Rp 6,9 miliar
- Pengadaan semir dan sikat sepatu Rp 1,5 miliar
Sebagian dana berasal dari anggaran pendidikan. Kritik muncul karena penggunaan ini dinilai tidak langsung menyasar kebutuhan gizi anak.
Sorotan publik tidak berhenti pada angka. Gaya kepemimpinan Dadan juga dipertanyakan setelah ia terlihat bermain golf saat sebagian wilayah Sumatera dilanda bencana.
Fernando Emas: Copot Saja, Penjelasan Tidak Cukup
Polemik BGN mendorong Direktur Rumah Politik Indonesia, Fernando Emas, untuk angkat suara.
Ia menilai penjelasan dari pihak BGN tidak menyelesaikan masalah.
“Penggunaan anggaran yang tidak tepat sasaran tidak cukup dijawab. Presiden harus mencopot Dadan Hindayana dan tim karena gagal menjalankan amanah,” ujarnya, Kamis (23/4).
Fernando juga meminta Presiden lebih selektif dalam memilih pejabat, terutama untuk program unggulan seperti MBG.
Klarifikasi 19.000 Sapi: Hanya Simulasi
Di tengah kritik, Dadan Hindayana memberikan penjelasan soal kebutuhan 19.000 ekor sapi dalam program MBG.
Ia menegaskan angka itu hanya simulasi, bukan kebutuhan nyata.
Perhitungannya sederhana. Satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) membutuhkan sekitar 350 hingga 382 kilogram daging sapi untuk sekali masak. Jumlah itu setara satu ekor sapi.
Jika seluruh SPPG memasak daging sapi secara bersamaan, maka total kebutuhan tinggal dikalikan jumlah SPPG.
Namun, skenario itu tidak pernah diterapkan. BGN tidak memberlakukan menu seragam secara nasional.
Pelajaran dari Lonjakan Harga Telur
BGN mengaku sudah belajar dari pengalaman sebelumnya. Pada peringatan ulang tahun Presiden, menu nasi goreng dan telur disiapkan untuk sekitar 36 juta penerima.
Dampaknya langsung terasa. Kebutuhan mencapai 36 juta butir telur atau sekitar 2.200 ton.
Harga telur naik hingga Rp 3.000 per kilogram.
Kasus ini menjadi dasar perubahan strategi. BGN kini menerapkan menu fleksibel berbasis bahan pangan lokal untuk menekan lonjakan harga.
Pengadaan Motor Listrik: Legal Tapi Dipertanyakan
Polemik BGN juga menyasar pengadaan 21 ribu motor listrik.
Motor merek Emmo dibeli dengan harga sekitar Rp 42 juta per unit, lebih rendah dari harga pasar Rp 52 juta.
Pengadaan ini mengacu pada Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2022 tentang penggunaan kendaraan listrik.
Produk tersebut juga terdaftar di e-katalog LKPP dan dipasok oleh PT Yasa Artha Trimanunggal.
Secara hukum, proses ini dinilai sah. Namun, besarnya nilai proyek membuat publik mempertanyakan kepatutan dan manfaatnya.
Audit dan Risiko Persepsi Kerugian Negara
Penggunaan anggaran besar selalu melewati pengawasan ketat. Auditor dan lembaga hukum akan memeriksa setiap prosedur.
Masalah muncul saat dugaan pelanggaran administratif langsung dianggap sebagai kerugian negara.
Padahal, kerugian ekonomi harus dibuktikan melalui audit dan proses hukum.
Fenomena ini terlihat dalam proyek BGN dan program lain seperti pengadaan kendaraan koperasi desa.
Sorotan Publik Bergeser ke Manfaat Nyata
Polemik BGN kini tidak hanya soal prosedur. Publik mulai mempertanyakan dampak nyata dari pengeluaran besar tersebut.
Pengadaan negara seharusnya mendorong kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi.
Jika tidak terlihat manfaat langsung, tudingan pemborosan mudah muncul.
Potensi protes dari pelaku industri dalam negeri juga terbuka, terutama terkait pengadaan kendaraan.
Kepercayaan Publik Jadi Taruhan
Kasus BGN menunjukkan satu hal penting: tata kelola anggaran harus jelas dan transparan.
Tanpa pemisahan tegas antara pelanggaran administratif dan kerugian negara, polemik akan terus berulang.
Kepercayaan publik terhadap lembaga negara sangat bergantung pada akuntabilitas.
Kini, semua mata tertuju pada langkah Presiden dalam merespons tekanan yang terus meningkat.



