spot_img
spot_img

Indonesia Miliki Cadangan Nikel Terbesar di Dunia, Teknologi Dikuasai China

Deadline – Indonesia memang memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, namun ketergantungan pada teknologi asing menjadi hambatan utama nilai tambah nikel nasional. Presiden Direktur PT Vale Indonesia Tbk Bernadus Irmanto menyebut teknologi China masih mendominasi industri nikel Indonesia.

Bernadus menilai perdebatan hilirisasi sering berhenti pada angka investasi dan jumlah tenaga kerja. Fokus itu dianggap keliru. Nilai tambah tertinggi justru lahir dari penguasaan teknologi.

Meskipun Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia. Fakta ini belum otomatis menguatkan posisi ekonomi nasional. Teknologi pengolahan nikel masih berada di tangan pihak luar, terutama China.

Sebagian besar investasi nikel di Indonesia menggunakan teknologi China. Kondisi ini menempatkan Indonesia pada posisi dilematis. Sumber daya besar tidak diiringi kendali teknologi.

“Mayoritas investasi nikel di Indonesia memang teknologinya dimiliki China,” kata Bernadus dalam Indonesia Weekend Miner di kawasan GBK, Jakarta, Sabtu 24 Januari 2026.

Menurutnya, tenaga kerja dan pengusaha lokal tetap penting. Namun teknologi harus menjadi fokus utama pembahasan nilai tambah nikel nasional.

Dalam konteks PT Vale Indonesia, cadangan nikel dinilai sebagai posisi tawar strategis. Sumber daya ini seharusnya dipakai untuk menekan akses teknologi, bukan hanya menarik investasi hilirisasi.

Pengalaman Bernadus berdiskusi dengan pelaku pasar Eropa dan Amerika Utara menguatkan pandangannya. Pertanyaan yang sering muncul adalah kemampuan Indonesia memasok nikel dengan komponen China yang lebih kecil.

“Pertanyaannya selalu sama, apakah Indonesia bisa supply nikel dengan less Chinese component. Realitanya hampir semuanya masih ada komponen China,” ujarnya.

Bernadus menilai pendekatan pragmatis perlu diambil. Langkah awal yang realistis adalah menguasai pabrik dan operasional industri nikel di dalam negeri.

Namun penguasaan pabrik tanpa pemahaman teknologi dinilai berisiko. Kontrol operasional sulit dilakukan jika teknologi tidak dikuasai.

“Bagaimana kita bisa mengontrol operasi kalau kita tidak tahu teknologinya,” tegasnya.

Karena itu, akses teknologi harus menjadi syarat utama dalam setiap kerja sama investasi. Skema joint venture dan perjanjian investasi perlu memuat agenda transfer teknologi.

Vale berupaya memanfaatkan sumber daya dan kredibilitas perusahaan untuk membuka jalan penguasaan teknologi. Targetnya dalam dua hingga tiga tahun Indonesia mampu mengontrol dan memelihara operasi industri nikel.

Penguasaan teknologi inti memang belum penuh. Namun kemampuan operasional dinilai sebagai fondasi awal yang wajib dicapai.

Bernadus juga menekankan pentingnya riset dan pengembangan dalam proyek hilirisasi. R&D harus menjadi bagian dari industri nikel nasional.

Ia mengingatkan posisi nikel telah berubah. Nikel kini menjadi komoditas politik. Negara yang menguasai teknologi pengolahan akan menentukan arah industri global.

Bernadus merujuk buku Mining is Dead, Long Live Geopolitics sebagai gambaran perubahan tersebut.

Paradoks Indonesia terlihat jelas. Cadangan nikel terbesar dan pasar besar belum diiringi kekuatan teknologi. Tanpa lompatan penguasaan teknologi, hilirisasi nikel berisiko berhenti pada produksi semata.

Trending Topic

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Puaskah Anda dengan Kinerja Presiden Prabowo?

Related news