Deadline – Ketegangan rumah tangga di Kota Bandung berujung aksi nekat. Seorang pria di Kelurahan Sukawarna, Kecamatan Sukajadi, diduga menyekap tiga anak kandungnya sendiri dan mengancam membakar rumah kontrakan yang mereka tempati.
Peristiwa ini membuat warga sekitar panik. Polisi bersama tim pemadam kebakaran turun langsung ke lokasi untuk melakukan evakuasi terhadap anak-anak yang berada di dalam rumah.
Kasus ini juga membuka fakta pahit bahwa anak sering menjadi korban utama saat konflik rumah tangga memuncak.
Konflik Rumah Tangga Diduga Jadi Pemicu
Warga sekitar bernama Ali mengatakan, penyekapan diduga dipicu masalah perceraian. Istri pelaku disebut meminta cerai, namun sang suami tidak menerima keputusan tersebut.
Menurut Ali, pasangan itu tinggal di Jalan Lemah Neundeut Nomor 2 sambil menjalankan usaha bengkel mobil. Namun usaha mereka disebut bangkrut dalam enam bulan terakhir.
“Awalnya sih istri dari pelaku sepertinya meminta cerai. Itu yang membuat pelaku enggak terima,” kata Ali.
Kondisi ekonomi keluarga disebut semakin memburuk setelah bengkel sering tutup akibat pertengkaran suami istri. Warga sekitar juga beberapa kali mendengar cekcok dari dalam rumah.
“Sering terdengar cekcok juga istri dan suaminya. Sampai-sampai bengkel sering tutup dan banyak komplain dari pelanggan,” ujarnya.
Ali menduga tekanan ekonomi dan konflik rumah tangga membuat pelaku mengalami tekanan mental yang kemudian dilampiaskan kepada anak-anaknya.
Warga Mengaku Sudah Lama Tidak Nyaman
Pertengkaran pasangan tersebut ternyata bukan terjadi sekali dua kali. Tetangga sekitar mengaku sudah lama merasa terganggu dengan keributan yang kerap terjadi.
“Kalau mereka berkelahi, tetangga menjadi enggak nyaman,” kata Ali.
Menurut warga, puncak konflik terjadi saat sang istri diduga sudah tidak tahan lagi dengan kondisi rumah tangga mereka.
Rumah yang sebelumnya ditempati keluarga itu kini disebut kosong setelah kejadian penyekapan berlangsung.
Pelaku Diduga Siram Bensin di Sekitar Rumah
Informasi mengenai ancaman pembakaran rumah juga sempat membuat warga khawatir. Namun Ali mengaku tidak mengetahui secara pasti apakah pelaku benar-benar berniat membakar rumah.
Ia hanya melihat adanya bensin yang disiram di sekitar lokasi.
“Setahu saya pelaku itu hanya menyiram bensin sekitar rumahnya. Tapi, mungkin itu hanya gertakan saja biar enggak jadi cerai,” ujarnya.
Polisi Bergerak Setelah Ibu Korban Melapor
Kasat Reskrim Polrestabes Bandung, AKBP Anton, menjelaskan kasus bermula saat ibu dari tiga anak tersebut mendatangi polisi dan meminta bantuan.
Menurut Anton, sang ibu melaporkan bahwa anak-anaknya disekap dan ada unsur ancaman di dalam rumah.
“Yang disampaikan ibunya ke polisi bahwa anaknya disekap atau ditawan,” kata Anton, Rabu (13/5/2026).
Setelah menerima laporan awal, anggota Polsek bersama Tim Prabu Polrestabes Bandung langsung menuju lokasi. Polisi juga meminta bantuan petugas pemadam kebakaran untuk proses evakuasi.
Polisi Masih Kumpulkan Bukti dan Keterangan Saksi
Hingga kini polisi masih mendalami kronologi lengkap kejadian. Penyidik fokus mencari akar persoalan yang memicu aksi penyekapan tersebut.
“Kami masih lakukan penyelidikan untuk mengetahui peristiwa sebenarnya,” ujar Anton.
Polisi menduga terdapat persoalan keluarga yang cukup serius, termasuk kemungkinan tekanan ekonomi maupun konflik rumah tangga lain.
Meski begitu, pihak keluarga disebut belum membuat laporan polisi resmi.
“Sampai saat ini istrinya atau ibu korban atau pihak yang dirugikan belum lakukan pelaporan,” kata Anton.
Saat ini polisi masih memeriksa warga sekitar dan mengumpulkan alat bukti untuk menentukan unsur pidana dalam kasus tersebut.
Penyekapan Anak Diatur dalam KUHP Baru
Tindakan penyekapan terhadap anak telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP Baru.
Pasal 446 hingga Pasal 447 mengatur perampasan kemerdekaan seseorang, termasuk tindakan menyekap dan mengurung.
Sementara Pasal 452 hingga Pasal 453 mengatur khusus penyekapan terhadap anak dengan ancaman pidana lebih berat.
Kasus di Bandung ini menjadi pengingat bahwa konflik rumah tangga dapat berdampak langsung terhadap keselamatan anak.



