Keracunan MBG di Surabaya, Dinkes Temukan Lalat dan Dugaan Tikus di Area Dapur

Deadline – Kasus keracunan program makan bergizi gratis atau MBG di Tembok Dukuh, Surabaya, mulai menemukan titik terang. Dinas Kesehatan Kota Surabaya mengungkap sejumlah temuan serius saat melakukan investigasi di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memasok makanan kepada para siswa.

Temuan itu muncul setelah sekitar 200 siswa diduga mengalami keracunan usai menyantap menu MBG. Para siswa mengeluhkan mual dan pusing setelah mengonsumsi makanan yang dibagikan sekolah.

Kepala Dinas Kesehatan Surabaya, Billy Mesakh, mengatakan dugaan sementara mengarah pada menu kresengan daging yang baru pertama kali disajikan kepada siswa.

Menurut hasil investigasi, ditemukan adanya kesalahan dalam proses penanganan bahan makanan, khususnya daging beku yang digunakan untuk menu tersebut.

“Daging dalam keadaan beku didefrozz di area yang tidak bersih,” ujar dr Billy saat rapat dengar pendapat di DPRD Surabaya, Rabu (13/5).

Proses pencairan daging itu berlangsung hampir dua jam hingga suhu daging kembali normal. Dalam rentang waktu tersebut, lingkungan sekitar disebut dipenuhi lalat.

Dinkes Surabaya juga menemukan perangkap serangga atau insect trap di dapur tidak memenuhi standar. Kondisi itu membuat lalat mudah keluar masuk area pengolahan makanan.

Masalah lain juga ditemukan di pintu masuk dapur. Area tersebut disebut tidak memiliki penghalang yang semestinya dipasang untuk mencegah masuknya serangga maupun hewan lain.

Baca Juga  Operasi Militer Puncak Papua: Drone, Tembakan, dan Jerit Pengungsi Sipil

“Pintu masuk dapur juga mestinya ada penghalang juga tidak ada, mudah sekali insect masuk,” jelas dr Billy.

Tidak hanya lalat, petugas bahkan mencurigai kemungkinan adanya tikus yang masuk ke area dapur melalui celah tertentu.

“Ada area yang kami tangkap juga kemarin jangan-jangan tikus juga masuk lewat situ,” lanjutnya.

Meski begitu, Dinkes Surabaya belum memastikan penyebab utama keracunan massal tersebut. Saat ini sampel makanan masih diuji di Balai Besar Laboratorium Kesehatan atau BBLK.

Hasil pemeriksaan laboratorium diperkirakan keluar dalam waktu lima sampai tujuh hari.

“Hasil lab memakan waktu 5-7 hari, Senin nanti,” katanya.

Dalam rapat tersebut juga terungkap bahwa SPPG Tembok Dukuh ternyata belum memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi atau SLHS. Dokumen itu menjadi syarat penting untuk memastikan proses pengolahan makanan memenuhi standar kebersihan dan keamanan pangan.

“SPPG itu harus punya SLHS, itu yang dia belum dapat,” ujar dr Billy.

Kasus ini menjadi sorotan karena program MBG ditujukan untuk mendukung kesehatan dan kebutuhan gizi siswa. Namun dugaan lemahnya standar kebersihan dapur justru memunculkan kekhawatiran baru terkait keamanan makanan yang dikonsumsi anak-anak sekolah.

Sementara itu, pihak terkait masih menunggu hasil resmi laboratorium untuk memastikan sumber kontaminasi yang menyebabkan ratusan siswa mengalami gejala keracunan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Teratas

spot_img

TERPOPULER