Deadline – Koperasi Merah Putih Kutoharjo mulai menunjukkan hasil nyata. Meski baru berjalan sejak Juli, koperasi desa ini sudah mencatat omzet hingga Rp 60 juta per bulan. Namun, ada fakta yang mencolok. Seluruh pengurus masih bekerja tanpa menerima gaji.
Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Kutoharjo dijalankan sepenuhnya oleh relawan. Ketua koperasi, Bambang Sudibyo, memastikan operasional tetap berjalan meski belum ada bayaran untuk pengurus. Fokus utama saat ini adalah menjaga keberlanjutan usaha dan memperbesar manfaat bagi anggota.
Koperasi Merah Putih Kutoharjo kini memiliki sekitar 250 anggota aktif. Seluruh modal berasal dari masyarakat. Tidak ada suntikan dana dari pemerintah. Setiap anggota wajib membayar simpanan pokok Rp 100 ribu sekali seumur hidup dan iuran bulanan Rp 10 ribu.
Anggota yang terdaftar berhak mendapatkan pembagian hasil usaha. Sistem ini diputuskan melalui rapat anggota. Syarat bergabung juga sederhana. Warga cukup memiliki KTP domisili setempat, menyerahkan pas foto, dan mengisi formulir.
Dalam operasionalnya, koperasi dikelola oleh sembilan orang pengurus. Struktur terdiri dari ketua, sekretaris, bendahara, dan beberapa bidang. Seluruh kegiatan masih dipusatkan di balai desa yang difasilitasi pemerintah setempat.
Koperasi Merah Putih Kutoharjo menyediakan berbagai kebutuhan pokok. Produk yang dijual meliputi sembako, makanan, minuman, hingga gas melon. Selain itu, tersedia juga layanan keuangan untuk anggota. Pembelian barang tertentu diprioritaskan bagi anggota, termasuk gas melon dengan harga sesuai aturan.
Untuk menjaga harga tetap stabil, koperasi bekerja sama dengan Bulog. Skema ini memungkinkan barang diperoleh langsung dari sumber. Pengurus juga menyediakan layanan antar bagi anggota yang membutuhkan.
Meski omzet terlihat besar, keuntungan bersih masih kecil. Dalam sebulan, koperasi hanya mencatat laba sekitar Rp 1 juta. Sementara itu, omzet harian berada di kisaran Rp 5 juta hingga Rp 7 juta.
Biaya operasional menjadi faktor utama. Pengadaan barang dan distribusi menyerap sebagian besar pendapatan. Karena itu, koperasi belum mampu menggaji pengurus maupun merekrut karyawan.
Koperasi Merah Putih Kutoharjo terus mencari cara untuk meningkatkan penjualan. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menggelar bazar murah di berbagai dukuh. Kegiatan ini murni inisiatif pengurus dan mendapat respons positif dari warga.
Jumlah anggota saat ini masih jauh dari potensi. Desa memiliki sekitar 4.000 warga dewasa. Artinya, tingkat partisipasi baru sebagian kecil. Meski begitu, pengurus menilai capaian ini sudah menjadi awal yang baik.
Bambang menegaskan, koperasi dibangun untuk kesejahteraan bersama. Tujuan utama bukan sekadar keuntungan, tetapi memperkuat ekonomi warga. Dana koperasi terus bertambah seiring adanya laba, meski nilainya masih terbatas.
Sejak berdiri, seluruh pengurus bekerja secara sukarela. Mereka tidak menerima bayaran, tetapi tetap menjalankan tugas setiap hari. Harapannya sederhana. Koperasi bisa tumbuh, mandiri, dan memberi dampak nyata bagi masyarakat.



