Deadline – Kabupaten Puncak kembali mencatat tragedi kemanusiaan. Kabupaten Puncak di Provinsi Papua Tengah dilanda baku tembak pada 13–14 April yang menewaskan 10 warga sipil dan melukai sejumlah lainnya.
Kabupaten Puncak masih menyisakan luka. Korban meninggal telah dimakamkan secara adat dengan kremasi. Korban luka, termasuk perempuan dan anak-anak, kini dirawat di RSUD Mulia, Puncak Jaya, dan sebagian dirujuk ke rumah sakit di Jayapura.
Kabupaten Puncak menghadapi dampak serius. Kepala Kampung Tinoti, Danggi Walia, mencatat 10 korban jiwa. Ia juga menyebut tiga orang masih hilang dan dalam pencarian.
Tragedi ini makin pilu. Salah satu korban adalah ibu hamil tua. Bayi dalam kandungannya ikut meninggal.
Ketakutan menyelimuti warga. Kampung Kumikomo di Distrik Mageabume dan Kampung Tinoti di Distrik Kembru menjadi titik utama kepanikan. Banyak warga memilih lari ke hutan atau ke kampung tetangga.
Data pengungsian menunjukkan skala dampak. Sekitar 60 warga mengungsi di Kampung Manggaleme. Sekitar 100 warga lainnya bertahan di Kampung Tirineri, Distrik Yambi.
Di tengah situasi ini, Palang Merah Indonesia bergerak. PMI Kabupaten Puncak dan PMI Kabupaten Puncak Jaya menembus wilayah konflik untuk memberi bantuan.
Tim tiba pada 19 April. Ketua PMI Puncak, Elpina Kogoya, dan Ketua PMI Puncak Jaya, Nelson Wonda, memimpin langsung misi kemanusiaan ini.
Langkah cepat dilakukan di lapangan. Tim mendirikan dua posko darurat di Kampung Tinoti dan Kampung Tirineri. Posko ini melayani warga dari dua kampung terdampak yang mengungsi ke wilayah tersebut.
Tenaga medis langsung bekerja. Dokter dan perawat memeriksa kondisi kesehatan warga. Bantuan disalurkan berupa sembako, biskuit, kopi, gula, serta tenda pengungsian.
Proses penanganan tidak mudah. Banyak warga masih trauma dan bersembunyi di hutan. Tim PMI harus berkoordinasi dengan kepala kampung agar warga mau keluar dan menerima bantuan.
Perlahan situasi berubah. Warga mulai berkumpul untuk mendapatkan pengobatan dan bantuan logistik.
Kesaksian warga menggambarkan ketakutan nyata. Mama Ita Walia menceritakan kejadian yang terjadi pada 14 April. Ia berharap pemerintah segera turun langsung melihat kondisi warga.
“Kami hanya ingin tinggal dengan tenang di tempat kami sendiri. Kami mohon pemerintah datang lihat kami,” ujarnya.
PMI menegaskan komitmen mereka. Elpina Kogoya menyatakan kehadiran tim untuk memastikan warga tidak merasa sendiri. Tim membawa obat-obatan dan kebutuhan pokok, serta membuka layanan kesehatan langsung di kampung terdampak.
Situasi di Kabupaten Puncak masih rentan. Warga bertahan di pengungsian dengan trauma yang belum pulih, sambil menunggu kehadiran negara memberi kepastian dan perlindungan.



