Deadline – Suasana nonton bareng (Nobar) di Ganjar Asri, Metro Barat, Lampung berubah menjadi mencekam setelah Dedi Kristian Agung (40) tewas ditembak pada Minggu malam, 24 Mei 2026. Insiden berdarah itu terjadi di depan lapak ayam geprek milik korban dan disaksikan langsung oleh istri serta dua anaknya yang masih kecil.
Nobar yang awalnya dipenuhi warga mendadak ricuh saat terdengar suara tembakan. Puluhan warga yang berada di lokasi panik dan berhamburan menyelamatkan diri.
Saksi mata bernama Iqdam mengatakan, sebelum penembakan terjadi korban dan pelaku sempat terlibat cekcok selama sekitar lima menit. Adu mulut itu kemudian berubah menjadi perkelahian fisik.
“Awalnya cekcok dulu, lalu berantem,” kata Iqdam.
Di tengah keributan, pelaku tiba-tiba mengeluarkan pistol dari tas selempangnya. Pelaku lalu melepaskan tembakan ke arah Dedi Kristian Agung hingga korban roboh di lokasi kejadian.
Warga yang melihat korban tersungkur langsung berusaha mengejar dan menangkap pelaku. Namun situasi kembali mencekam setelah pelaku melepaskan satu tembakan ke udara untuk membubarkan massa.
“Karena orang-orang mau nangkap, dia kasih peringatan biar enggak mendekat,” ujar Iqdam.
Tembakan peringatan itu membuat warga mundur karena takut menjadi sasaran berikutnya. Pelaku kemudian memanfaatkan kepanikan warga untuk melarikan diri dari lokasi.
Korban sempat dievakuasi menggunakan mobil warga yang melintas karena ambulans belum tiba di lokasi. Namun nyawa Dedi tidak berhasil diselamatkan.
Istri dan Anak Korban Saksikan Penembakan
Peristiwa itu meninggalkan trauma mendalam bagi keluarga korban. Sang istri, Vita Lestari, mengaku menyaksikan langsung suaminya ditembak di depan dua anak mereka yang masih berusia 7 tahun dan 3 tahun.
Saat kejadian, Dedi diketahui sedang menemani istrinya berjualan ayam geprek di lokasi nobar. Menurut Vita, pelaku awalnya datang seperti ingin berbicara biasa sebelum suasana berubah tegang.
Cekcok kemudian terjadi dan berlanjut menjadi perkelahian. Tidak lama kemudian pelaku mengeluarkan pistol dan menembak korban hingga jatuh bersimbah darah.
“Suami saya langsung jatuh setelah ditembak,” ujar Vita dengan suara bergetar.
Anak-anak korban disebut berada tidak jauh dari lokasi ketika penembakan terjadi. Mereka diduga menyaksikan langsung detik-detik ayahnya ditembak.
Diduga Dipicu Utang Piutang
Vita Lestari menduga aksi penembakan itu sudah direncanakan sebelumnya. Ia menyebut pelaku kerap melontarkan ancaman kepada suaminya terkait persoalan utang piutang.
“Suami saya pernah bilang, ‘Kamu selalu ngancam saya mau nembak saya’,” tutur Vita.
Menurut keluarga korban, hubungan antara korban dan pelaku memang sudah lama memanas. Ancaman yang sebelumnya dianggap sekadar emosi diduga menjadi petunjuk bahwa pelaku telah mempersiapkan aksi tersebut, termasuk membawa senjata api ke lokasi.
Kasus penembakan ini kini ditangani Polres Metro. Polisi disebut telah mengamankan pelaku dan masih mendalami motif utama pembunuhan tersebut.
Selain menyelidiki dugaan unsur perencanaan, polisi juga menelusuri asal-usul senjata api ilegal yang digunakan dalam aksi penembakan itu.
Di tengah duka yang mendalam, Vita berharap proses hukum berjalan transparan tanpa campur tangan pihak mana pun.
“Saya cuma minta keadilan seadil-adilnya. Suami saya meninggalkan dua anak yang masih kecil,” katanya.



